Pages




27 Jan 2012

SNOW WHITE

A long time ago, a child was born to a queen and king and she was called Snow White.  When the queen died, the king married again. 
K:”Will you marry me?”
Q:”yes..”
 This new queen was wicked and hated Snow white.  The queen gave orders that Snow White was to be treated as a servant.
Q:”hey..hey Snow White..”
S:”what queen?”
Q:”take at the food please! Come on!”
Snow White grew very beautiful and one day a Prince was riding horse, saw her at work and fell in love with her.
S:”nanana.. na..na..na..”
P:”wow..you have a beautiful voice..”
S:”thank’s..”
Q:“hey..hey Snow White..”
S:”sorry..good bye..”

18 Jan 2012

Siluet Bayanganmu

Sahabat sejatiku, hilangkah dari ingatanmu? Di hari kita saling berbagi. Dengan kotak sejuta mimpi, aku datang menghampirimu, ku perlihatkan semua hartaku. Kita selalu berpendapat, kita ini yang terhebat. Kesombongan di masa muda yang indah. Aku raja kau pun raja, aku hitam kau pun hitam. Tapi teman lebih dari sekedar materi. Ku selalu membanggakanmu. Kau pun selalu menyanjungku. Aku dan kamu, darah abadi. Kita bermain bersama, kita duakan segalanya. Merdeka kita, kita merdeka.
* * *


Fajar kemerahan sejuk nan indah terpancar samar di ufuk timur. Dedaunan basah membelai udara dengan lembut, diiringi suara alarm berkokok yang khas. Ayam ini sungguh luar biasa. Ya, aku memang tak pandai bermain kata, sehingga sulit untuk kulukiskan alangkah indahnya pagi ini. Aku menghirup udara dalam – dalam. Mengegoiskan diri untuk mengambil oksigen sebanyak – banyaknya terlebih dahulu, sebelum persediaan semakin menipis hingga sore nanti. Oh, andaikan aku bisa selalu bangun pagi.
Masih bisa dibilang “pagi sejuk”, pukul 04.10. Aku menuruni loteng dengan kaus dan celana pendek biru yang masih kukenakan. Belum satu orang pun berkutik dari atas ranjang di kamar mereka. Biarlah, memang hari Minggu adalah hari yang paling menyenangkan daripada hari – hari yang lain. Hmm, iya sangat menyenangkan. Aku tersenyum.
Kriiing.. Kriiing..
“Halo?” Suaraku yang masih berat menjawab telepon itu, pasti dari Riva.
“Hai, Husada kan? Sudah bangun?” suara Riva yang sangat segar namun lembut itu sangat menenangkan.
“Kalau aku masih tidur, lalu siapa yang berbicara denganmu saat ini?”
“Haha, iya iya.” tawa renyahnya itu bagai alunan musik klasik baby Einstein. Membangkitkan saraf – saraf otakku agar aku bisa melihat dunia yang sangat indah ini, bagai senyumannya, yang mengeluarkan lesung pipi imut di kedua pipinya. Aih, lucunya.
“Husada? Kau masih disitu kan?” Suaranya membuyarkan lamunanku, seketika aku langsung terkaget dan gugup.
“Eh, i iya. Maaf. Jadi kan?”
“Justru itu yang ingin kutanya. Apa aku yang harus menghampirimu?”
“Oh.. Tidak, tidak. Biar aku saja.” Sungguh tidak elit jika harus perempuan yang menghampiri laki – laki.
“Baiklah, kutunggu ya, setengah lima jangan telat atau kau kutinggal.”
“Iya.”
Tut.. Tut.. Tut..
Aku segera berlari ke kamar mandi. Sebenarnya aku bimbang mau mandi atau tidak. Air di sini sangat dingin. Tapi akan sangat memalukan jika bertemu perempuan yang amat spesial dan dia menghirup aroma bantal dan guling yang masih menempel. Maka kuputuskan untuk mandi. Usainya, aku segera berganti pakaian. Membingungkan. Aku ingin terlihat gaya, namun aku tak punya apa – apa. Jadinya, hanya ini yang kupakai. Kaus hitam yang agak pudar warnanya, trining biru dongker, dan sepatu belel yang sudah mengelupas juga kulitnya, ditambah lagi dengan jaket merah yang kedodoran dan sebuah jam tangan adidas warna hitam yang masih amat sangat bagus pemberian Riva. Jam tangan itu adalah benda yang paling berharga yang kumiliki.

15 Jan 2012

Pembalasan

                Saat malam itu, seorang gadis kecil terpaku di sudut pintu yang sudah lama ditancapkan bersama tembok disampingnya. Saat itu, dia tak tahu apa yang harus dia lakukan selain diam terpaku di situ dan menangis menatap darah didepannya yang berceceran dari tubuh Handoyo, kakek gadis itu. Di rumah ini, tak ada seseorang lagi selain dia dan kakeknya yang terbujur lemah di lantai, semua pergi entah kemana, yang gadis itu tahu hanya disuruh pergi bermain ke rumah temannya oleh sesosok tubuh didepannya ini dan saat dia kembali semuanya jadi begini.
                “KREEEK.. KREEEK..” suara pintu depan yang dibuka.
                Pasti mereka sudah datang, akhirnya.. aku takut! Batinnya.
Dia ingin langsung berteriak agar mereka tahu secepatnya, tapi dia urungkan niatnya itu karna dia mendengar suara orang berbicara, itu bukan suara mamanya, papanya, ataupun neneknya.
                Mereka siapa? Batinnya.
                “Semua yang ada sudah kau gasak belum?” kata seseorang dengan suara yang besar.
                “Tentu. Semuanya sudah aku ambil, tapi tinggal satu lagi yang belum.” Kata seseorang temannya
                “Apa itu?”
                “Si tua bangka dikamar tadi. Kau tak lupa kan?”
                “Oh, dia? Aku tak kan lupa, ayo kita bereskan dia!”
                Suara tapak kaki kedua orang itu semakin dekat, dia kelihatan sangat panik sekali, lalu cepat-cepat dia bersembunyi di balik lemari yang berada antara 2m dari posisinya saat itu. Selang beberapa detik kemudian, terlihat tubuh kakeknya digeret keluar oleh kedua orang itu yang kedua-duanya memakai penutup kepala berwarna hitam sehingga menutupi seluruh wajahnya selain kedua matanya. Walau suasana didalam ruangan itu agak gelap, tapi dia bisa melihat jelas tato dua gambar naga melingkar yang menyemburkan api ke atas dan bawah yang menghiasi pegelangan tangan kiri milik salah seorang yang berpawakan kekar di depannya itu.
                Aku tak kan meninggalkanmu lagi kakek! Batinnya.
✿✿
Pagi hari di Bandung.
                Terlihat banyak orang yang lagi berolahraga ria di jalan-jalan. Jelas saja, hari ini kan hari minggu, hari yang enak buat jogging, bersepeda, bulu tangkis, atau cabang  olah raga lainnya. Banyak banget penduduk yang berkumpul disini yang menikmati weekendnya, nggak hanya ada yang cuma mau olahraga yang ada disini, banyak juga yang menikmati weekendnya dengan duduk-duduk saja atau hang out sama pasangannya masing-masing.
                Di arena cabang olahraga bola basket, terlihat seorang cewek yang lagi main atau yang lebih tepat saling rebut bola bersama para cowok-cowok. GILA! Di sudut lapangan, duduk seorang cewek berpawakan ramping dan berambut hitam sebahu yang lagi ngosngosan dan megangin perutnya.
                “Kin... Kiana... gila lo ya.. masih kuat lo Kin?” teriaknya.
                Cewek yang tadi dipanggil Kiana yang tadinya mendrible bola langsung melayangkan bola dengan jurus andalannya yaitu  three point yang diakhirinya dengan sempurna dan langsung menoleh ke arah suara yang memanggilnya tadi berasal dengan mengibaskan rambutnya yang panjang dan hitam, rambutnya juga diikat di belakang dengan pita pink yang imut ke arah temannya itu.
                “Ada apa sih? Ngganggu banget sih lo?”
                “Lo gak setia kawan!” katanya sambil manyun.
                “Muri.. Muri..” Kiana geleng-geleng kepala.
                “Ngapain lo pakek acara geleng-geleng segala?”
                “Habis.. elo yang nggak kuat main, eh.. malah gue yang disalah-salahin..”
                Manyunnya Muri tambah maju aja denger kata-kata Kiana barusan. Tapi memang Muri staminanya nggak sekuat Kiana, makanya dia sering marah-marahin atau ngambek nggak jelas sama Kiana.
                “ Malu tau! Masak di depan cowok-cowok gue kalah sama lo?”
                “ahahaha.. ya udah, balik aja deh kalo gitu..” sambil menuangkan senyum manis dari bibirnya yang menghasilkan lesung pipi di bagian kirinya, dia mengulurkan tangan kanannya ke arah Muri yang duduk.
                Di parkiran, Kiana sedang membuka pintu mobilnya, mobil sport jenis SUV (Sport Utility Vehicle) warna putih yang sangat dia sayangi. Setelah keluar dari parkiran, Muri masuk mobil dan mobil itu pun langsung melejit cepat menyusuri jalan.
✿✿
                “You are my best friend, Kin... ^o^” cuap-cuap Muri
                “Hmm.. iya.. iya.. gue tau.. Muri si my best friendku tersayang..”
                Wajahnya Kiana makin bete aja gara-gara si Muri yang dari tadi bilang makasihlah, nyebut-nyebut Kiana yang best friend terbaiklah, apalah.
                Ribut ! Jadi risih gue! Si Muri nyebelin! Batin Kiana
                “Ahahahahaha.. ngapain lo tekuk segala wajah lo tuh? Jelek tau!”
                “Tau aa...”
                “Nanti Arga nggak nempel lagi lho...”
                “Apa sih?”
                “Ngaku aja deh Kin... gue kan sahabat lo.. masak masih nggak percaya sama gue..”
                “Dia nggak suka sama gue!” ekspresi wajah Kiana kelihatan sedih.
                “Itu belum tentu, Kin... Lo suka sama dia kan?”
                Mendengar kata-kata yang di katakan Muri, Kiana menghela nafas. Dengan mendadak dia mengerem mobil sport miliknya itu dan menundukkan kepala. Muri yang masih belum pulih dari kagetnya akibat pengereman mendadak yang dilakukan Kiana barusan bertambah kagetnya melihat Kiana yang sepertinya sedang meneteskan air matanya.
                “ke... kenapa Kin?” kata Muri sambil mengelus-elus rambut sahabatnya itu.
                “IYA... BENER.. GUE EMANG SUKA BANGET SAMA ARGA!!!” teriak Kiana yang terus meneteskan air matanya.
✿✿
                Seseorang laki-laki jangkung yang duduk tersandar di bawah pohon kelapa sendirian ditemani  oleh semilirnya angin sawah. Dia memandangi figura yang berisi foto seseorang cewek cantik  berambut hitam panjang yang tergurai dan terhiasi jepit warna biru muda berbentuk bunga di sebelah kanan, di foto itu, cewek itu tersenyum manis dan menghasilkan lesung pipi di sebelah kiri.
                “Kapan gue bisa milikin lo?”
✿✿
       Walau Kiana udah clear nangisnya, tapi dia masih kelihatan terisak. Saat sudah memasuki ruang. tengah, terlihat sesosok wanita berambut pendek yang mulai beruban sedang duduk termenung di sofa empuk berwarna coklat yang diletakkan di samping vas bunga mawar merah.
                “Mama... “ panggil Kiana dengan keras namun lembut.
                Wanita yang di panggil mama oleh Kiana itu tetap diam saja, tanpa menoleh, tanpa bersuara. Sepontan Kiana langsung berlari menghampiri wanita yang dia panggil mama dan memeluknya.
     &nbrp;          “Mama... jangan gini terus dong ma... Mama...”
                Sambil terus memeluk mamanya, Kiana menuangkan air matanya dipelukan sang mama.
 
Copyright (c) 2010 Binta Liah. Design by WPThemes Expert
Blogger Templates by Buy My Themes.